Podcasting dan Cara Meniru Interaksi yang Paling Mirip dengan Dunia Nyata

avatar: freepik.com illustration: In-depth Creative

avatar: freepik.com 

illustration: In-depth Creative

ZOOM WEBINAR! Harap RSVP kehadiran Anda di…

You are invited to our special day! Zoom ID: 578291 at 10 AM (EST)/ 9 PM (GMT+7) 

RAPAT INTERNAL TIM DIGITAL KALI INI LEWAT GOOGLE MEET DI JAM BIASA YA. JANGAN LUPA PITCH IDE PLS.

PENGUMUMAN: Kelas Biologi kelas XI IPA 2 dialihkan ke Zoom ID berikut…

Mau format podcast kalian chat cast atau narrative storytelling, audio dokumenter atau interview, pasti setuju kalau interaksi yang alami itu lebih enak didengar ketimbang yang ketahan atau terdengar dibuat. 

Lucunya sejak pandemi ini, saya dan tim di In-depth Creative justru dapat pelajaran baru soal bagaimana supaya interaksi terdengar lebih alami. 

Di awal-awal masa pandemi, saya dan tim kerjaannya nge-Zoom terus sepanjang hari. Mulai dari meeting internal, wawancara narasumber atau karakter cerita buat episode baru, ngobrol santai antar anggota tim, sampai game night. Semua orang juga sepertinya bergantung sekali ke teknologi video virtual, iya ga sih

Mau itu Zoom, Skype, Google Meets, Microsoft Team, atau yang lainnya. Seakan-akan ada asumsi kalau cara berkomunikasi yang paling mendekati interaksi in real life (IRL) adalah dengan melihat wajah lawan bicara. 

Tapi setelah berbulan-bulan mengandalkan Zoom, saya merasakan yang orang-orang sebut sebagai Zoom fatigue—lelah fisik dan mental karena terlalu sering berinteraksi lewat layar. Itupun kami rasakan dari lawan bicara kami! Kalau kalian pendengar Indonesia In-depth, mungkin sudah familiar dengan cerita-ceritanya yang mendalam. Seringkali, isu diskusi kami juga cukup sulit dan membuat lawan bicara jadi vulnerable. Tapi sudah beberapa kali ini, karakter yang mau kami ajak ngobrol tidak bisa leluasa mengeluarkan isi hati dan pikirannya, seperti ada yang mengganjal, seperti ada yang tertahan. Semua terdengar lebih “scripted”.  Dan di sinilah yang jadi pembuka mata saya dan tim.  

Akhirnya, kami coba tidak lagi menggunakan teknologi yang popularitasnya meroket sejak pandemi itu. Sebagai gantinya, kami beralih ke telepon dan mengandalkan satu hal aja--suara. Kalaupun pakai aplikasi video virtual, kami matikan videonya. 

Yang kami perhatikan selama proses transisi video ke audio ini: 

1. Nyaris tidak ada friksi dalam interaksi dengan medium audio saja

Berinteraksi menggunakan video itu banyak syaratnya kalau mau bagus. Apalagi kalau tujuan dari panggilan video itu (baik gambar maupun suaranya) untuk ditampilkan sebagai bagian dari konten/episode. Mulai dari posisi kamera harus pas supaya menangkap wajah secara jelas, pencahayaan ruangan yang baik, pakaian yang rapi, sampai memastikan pengaturan audio agar suara terekam dari mic di earphone/headphone (bukan speaker laptop). Nah, variabelnya banyak banget dan susah dipastikan di semua karakter yang kami ajak bicara. Banyak karakter di episode kami yang orang-orang biasa, tidak tech-savvy, atau sudah senior. 

Dan ironisnya, seringkali hal yang paling penting yang saya butuhkan sebagai produser audio, yaitu suara yang jelas, ga didapat juga. Meskipun saya dan tim sudah kasih arahan sebelumnya, pasti ada saja pengaturan audio yang keliru atau terlupakan dari pihak lawan bicara. Masih mending kalau bicara off-mic, ada juga audio yang tidak terekam dari built-in microphone pada earphone/headphone mereka tapi dari speaker laptop. Hasilnya, kualitas suaranya rendah. 

Beda banget dengan medium telpon dengan suara. Tidak perlu ada pengaturan apa-apa yang beda dari biasanya dalam menelpon--input dan output suara sudah jelas berasal dari mana. 

2. Tuntutan untuk tampil di depan kamera  

Setelah beralih ke panggilan telepon, saya juga jadi sadar bahwa medium komunikasi audio ini membuat interaksi menjadi lebih rileks. Dan karenanya, obrolan yang terbangun pun lebih alami. Berbeda dengan Zoom atau virtual video lainnya yang seolah menuntut kami tampil di depan kamera. Sadar gak kalau kita terkadang membetulkan rambut atau bahkan menatap diri sendiri di layar saat panggilan video? Barangkali bukan bermaksud narsis, tapi untuk memastikan kalau diri kita tampil dengan baik di depan kamera.  

Bicara di depan kamera dan menyadari kalau semua orang menatap balik itu membuat video daring menjadi platform yang terasa performative sekali. Dan semua hal yang performative itu melelahkan secara mental dan fisik. 

Lagi-lagi, pasti semua podcaster bisa sepakat kalau interaksi yang bagus itu kalau bisa mendengar isi hati dan kepala orang lain secara otentik. Seringkali ini sulit didapatkan kalau yang diajak bicara merasa terlalu mawas diri, merasa ada tekanan, stres, atau anxious. Yang kami rasakan, bicara melalui video daring menambah semua stressors di atas yang sebenarnya tidak perlu ada dari awal. Dan menurut kami, itu terjadi karena adanya tuntutan untuk tampil dengan baik ketika bicara di video daring. 

3. Video menghabiskan lebih banyak energi

Saat melakukan panggilan video, kita dituntut untuk fokus tidak hanya pada suara, tapi juga intonasi bahasa, ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Berbeda dengan interaksi tatap muka yang terjadi secara alami, dalam panggilan video, umumnya kita butuh usaha ekstra untuk memproses isyarat-isyarat non-verbal tersebut. Dan yang namanya usaha ekstra pasti butuh lebih banyak energi. Makanya, gak heran kali ya kalau banyak orang, termasuk saya dan tim, yang mengalami Zoom fatigue karena kebanyakan video conference

Sementara, kalau menelpon, karena hanya fokus pada suara saja, saya sih ga merasa tersedot habis energinya setelah bicara.

4. Banyak masalah teknis dengan aplikasi video

Pernah gak mengalami tampilan video yang tidak sinkron dengan audio di tengah-tengah Zoom call? Gangguan seperti itu memang menjengkelkan sekali! Dan yang lebih menyebalkan lagi, sulit untuk mengetahui persis penyebabnya. Bisa karena kualitas jaringan, masalah di aplikasi, device yang digunakan, atau mungkin di pihak lawan bicara masalahnya. Kalau sudah begitu, kami biasanya tinggalkan meeting lalu melakukan restart laptop yang prosesnya paling tidak butuh 1-2 menit. 

Kalau dipikir-pikir lagi, masalah teknis seperti itu menjadi hambatan yang mengurangi kualitas interaksi. Banyak waktu terbuang dan kualitas diskusi atau obrolan setelahnya juga lebih lemas atau sudah lupa, dan lainnya.

Ya memang sih tidak ada yang sempurna, tapi pengalaman selama pandemi ini membuka mata kami banget, tim In-depth Creative, soal pertanyaan yang saya ga kira akan sepenting ini buat pekerjaan kami. Pertanyaannya kira-kira begini: seperti apa sih interaksi yang alami itu? Bagaimana cara mereplika interaksi alami yang terjadi sehari-hari?

Dari pengalaman kami berproses tadi, kami  menyimpulkan kalau panggilan video bukanlah medium komunikasi yang paling mendekati interaksi alami tatap muka. Sedangkan panggilan telepon, yang mungkin dianggap sebagai medium komunikasi konvensional dan dasar, justru memungkinkan kami membangun interaksi yang lebih alami dan berkualitas, meski tanpa kontak fisik.